Tag: Media Massa

  • Peras Warga, Polisi Amankan Dua Oknum Wartawan Bodong

    Bogor, infopertama.com – Dua oknum wartawan akhirnya berurusan dengan polisi usai melakukan pemerasan terhadap pengurus RW di Desa Sibanteng, Kec. Leuwisadeng dengan ancaman akan memberitakan suatu perkara.

    Buntut dari penangkapan wartawan bodong berinisial AY dan Z di Desa Sibanteng, Leuwisadeng, Kab. Bogor, Jawa Barat itu, Kapolres Bogor AKBP Iman Imanuddin mengimbau masyarakat segera melaporkan segala bentuk pemerasan.

    “Saya mengimbau kepada masyarakat atau para pejabat di daerah yang desanya mungkin menjadi sasaran oknum yang suka mengaku-ngaku dari media tersebut dengan menakut-nakuti dengan naik berita. Saya mengimbau agar segera melaporkan kepada kami,” ungkapnya di Cibinong, Bogor, Senin.

    Iman bahkan menjadikan kasus tindak pidana pemerasan dengan tersangka AY dan Z sebagai pintu masuk untuk membongkar kelompok-kelompok wartawan bodong yang kerap melakukan pemerasan.

    “Informasi yang masuk kepada kami memang ada beberapa kelompok yang memiliki kebiasaan seperti ini (melakukan pemerasan). Namun kami sedang lakukan pendalaman,” kata Iman.

    Ia menyayangkan aksi pemerasan oleh AY dan Z karena telah menunggangi profesi wartawan dalam melakukan tindak kejahatan.

    “Orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan mengatasnamakan media lalu menakut-nakuti dengan meminta sesuatu kepada masyarakat. Sebenarnya terhadap yang bersangkutan juga tidak bisa katakan sebagai awak media jika tidak terdaftar di Dewan Pers,” paparnya.

    Sebelumnya, Kapolsek Luewiliang, Kompol Agus Supriyanto menjelaskan bahwa telah mengamankan AY dan Z pada Kamis (12/1) petang di Leuwisadeng. Yakni setelah meminta uang kepada pengurus RW di Desa Sibanteng, Kec. Leuwisadeng dengan ancaman akan memberitakan suatu perkara.

    Laman: 1 2

  • Rizal Ramli Tawarkan Solusi Agar Pers Sehat dan Tidak Oligopolistik

    Catatan: Arief Gunawan, Wartawan Senior.

    DI AMERIKA orang berkata: “Journalist is not a game”.

    Kewartawanan bukanlah permainan

    Ia punya tujuan sosial yang serius.

    Dengan kemerdekaannya pers di sana jadi senjata ampuh melindungi demokrasi.

    Untuk jasa keberpihakan itu misalnya setiap tahun sejak 1917 pers di sana diapresiasi dengan hadiah-hadiah bergengsi seperti Pulitzer, sehingga wartawannya banyak yang dikenal sebagai sosok pejuang dan penjaga nilai jurnalisme.

    Bagaimana di sini?

    Profesi wartawan yang merupakan vocatio (panggilan) sekarang cenderung sekedar job atau karir belaka.

    Role model Pers Pejuang dan Pejuang Pers semakin sulit ditemukan.

    Hal ini berkaitan pula dengan pola kepemilikan media yang oligopolistik dan tak sehat.

    Dalam siaran terakhir ILC TVOne, Selasa, 15 Desember 2020, tokoh nasional Dr Rizal Ramli memberikan solusinya.

    Pola oligopolistik kepemilikan media menurutnya sangat tidak sehat. Misalnya, kini membolehkan seorang pemilik media misalnya memiliki beberapa media dengan jumlah yang sangat mendominasi.

    Namun dalam prakteknya media-media tersebut lebih banyak gunakan untuk kepentingan politik dan bisnis pemiliknya. Terutama sekali untuk mendapatkan akses dan mendekat kepada kekuasaan.

    “Media dikuasai segelintir orang. Satu orang bisa punya belasan atau puluhan media,” tandas Rizal Ramli.

    Pola seperti ini menurutnya harus ubah, yakni dengan memberikan ketentuan kepemilikan media cukup kepada satu orang, yakni satu orang satu media, dan pemiliknya idealnya harus benar-benar insan pers. Seperti era pers sebelumnya di mana banyak lahir tokoh-tokoh Pers Perjuangan yang identik dengan media yang meraka miliki.

    Laman: 1 2