infopertama.com – Gelombang serangan rudal Iran mampu menembus sistem pertahanan Israel dan menghantam dua kota di bagian selatan Israel yang berdekatan dengan sebuah fasilitas nuklir.
Kementerian Kesehatan Israel menyatakan sebanyak 116 orang terluka di Arad dan 64 lainnya di Dimona setelah rudal balistik menghantam kedua kota pada Sabtu (21/03) malam.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyebut tidak mengetahui adanya kerusakan pada fasilitas riset nuklir yang berlokasi sekitar 13 km dari Kota Dimona.
Stasiun televisi pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa serangan tersebut merupakan balasan atas serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz di Iran pada Sabtu (21/03).
Sementara itu, pada Minggu (22/03), layanan darurat Magen David Adom melaporkan sedikitnya satu orang tewas dan tujuh lainnya terluka akibat serangan bom tandan Iran di Tel Aviv.
Angkatan Udara Israel menyatakan Teheran telah menembakkan 400 misil ke arah Israel sejak serangan AS–Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Dari jumlah itu, 92% berhasil dicegat.
Di Arad, warga setempat menggambarkan ledakan pada Sabtu malam sebagai pengalaman yang menakutkan. Serangan rudal Iran merusak sejumlah bangunan dan meninggalkan kawah besar.
Naram Zaid, seorang paramedis di kota tersebut, mengatakan kepada BBC News bahwa ia melihat “banyak anak dengan luka di kepala dan dada” akibat tertimpa benda di dalam bangunan yang rusak.
“Saya berusaha menenangkan seorang anak perempuan berusia 10 tahun yang mengalami luka di kepala, dengan darah di wajahnya akibat pecahan kaca,” ujarnya.
“Ia menolak masuk ambulans karena orang tuanya masih berada di dalam gedung. Kami menunggu hingga orang tuanya dievakuasi dari blok apartemen yang hancur, lalu mengirim mereka semua ke rumah sakit.”
Dinding luar dua gedung apartemen rusak parah akibat hantaman.
Kota Dimona yang berdekatan juga mengalami serangan serupa. Di antara banyak korban luka terdapat seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, yang menurut tim medis kondisinya serius.
“Di Dimona dan Arad, peluncur pencegat ditembakkan namun gagal mengenai ancaman, sehingga terjadi dua hantaman langsung oleh rudal balistik dengan hulu ledak seberat ratusan kilogram,” kata petugas pemadam kebakaran Israel.
Ahmadiel Ben Yehuda, warga yang tinggal hanya dua menit berjalan kaki dari lokasi jatuhnya misil di Dimona, mengatakan ia sedang menuju tempat perlindungan ketika serangan terjadi. “Ada kerusakan di semua rumah di komunitas kami—banyak langit-langit runtuh dan jendela pecah—termasuk di rumah saya sendiri,” ujarnya.
Ben Yehuda menambahkan, ketika ia mengunjungi lokasi jatuhnya misil, “seluruh area benar-benar hancur, termasuk sebuah taman kanak-kanak.”
Dia mengaku mengenal beberapa orang yang apartemennya hancur total.
“Saya merasa ngeri. Sulit dipercaya kekuatan sebuah misil bisa menghancurkan beton, melihat kehancuran itu sulit dipahami.”
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Presiden Isaac Herzog mengunjungi lokasi terdampak pada Minggu (22/03).
Kemampuan Iran untuk terus menimbulkan kerusakan di dalam wilayah Israel menjadi pengingat akan kapabilitas militer negara tersebut.
Penyelidikan mendesak kini dilakukan untuk mengetahui bagaimana rudal-rudal Iran bisa menembus sistem pertahanan udara Israel.
Namun, seperti yang terjadi dalam perang 12 hari musim panas lalu, masyarakat Israel sadar bahwa sistem tersebut tidaklah sempurna.
Pusat Riset Nuklir Shimon Peres Negev—berlokasi di gurun Negev—sering disebut secara populer sebagai “reaktor Dimona.” Selama ini, fasilitas tersebut diyakini menyimpan persenjataan nuklir Israel yang tidak pernah diumumkan secara resmi.
Secara resmi, situs itu disebut hanya berfokus pada penelitian. Namun, selama sekitar enam dekade, sudah menjadi rahasia umum bahwa Israel mengembangkan bom nuklir di sana, meski setiap pemerintahan yang berganti tetap mempertahankan sikap ambigu.
Hal ini menjadikan Israel satu-satunya kekuatan nuklir di Timur Tengah. Karena itu, setiap indikasi bahwa fasilitas tersebut menjadi sasaran serangan dipandang dengan sangat serius oleh Israel.
Namun, pemerintah Israel menegaskan tidak ada kebocoran material radioaktif dan tidak ada bahaya bagi penduduk di sekitar lokasi.
Natanz juga menjadi sasaran pada hari-hari pertama perang yang dimulai 28 Februari, serta saat perang 12 hari pada Juni lalu.
Ketika ditanya mengenai Natanz pada Sabtu (21/03), Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyampaikan kepada media Israel dan internasional bahwa mereka tidak mengetahui adanya serangan di wilayah tersebut.
Organisasi Energi Atom Iran menyebut serangan terhadap fasilitas Natanz sebagai pelanggaran terhadap Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir).
Di sisi lain, Israel dan Amerika Serikat menetapkan penghapusan kemampuan Iran untuk mengembangkan senjata nuklir sebagai tujuan utama perang.
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




