Sementara itu, warga dari Samarinda, Kutai Kartanegara, dan Kutai Barat bertindak sebagai tuan rumah yang menyambut saudara mereka dengan penuh kehangatan.
Filosofi Caci, Keberanian dan Sportivitas
Di arena, pertarungan dimulai. Caci merupakan simbol kejantanan dan keberanian.
Setiap penari menampilkan kemampuan atau lomes, yakni perpaduan antara gerak estetik, kelincahan tubuh, hingga ketepatan dalam mencambuk atau menangkis.
Setiap kali cambuk mengenai sasaran, sorak-sorai penonton pecah. Meski ada darah yang menetes, tidak ada dendam di antara para penari.
Di akhir laga, mereka saling berpelukan. Inilah filosofi utama Tari Caci: keberanian yang dibalut sportivitas tinggi dan persaudaraan.
Bagi generasi muda yang hadir, momen ini menjadi ruang pembelajaran budaya.
Banyak di antara mereka mengabadikan momen dengan ponsel, namun tidak sedikit pula yang terdiam kagum menyaksikan warisan leluhur tetap hidup meski jauh dari tanah asal.
Dua hari pelaksanaan festival ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat bahwa identitas budaya tidak boleh luntur oleh arus urbanisasi.
“Semoga ini menjadi wadah silaturahmi yang abadi. Kita ingin anak muda tidak lupa pada akar budayanya,” pungkas Melki.
Saat matahari mulai terbenam di ufuk Samarinda pada Sabtu sore, suara gong perlahan mereda. Namun bagi masyarakat Manggarai di Kalimantan Timur, semangat persatuan yang lahir dari Tari Caci justru semakin menguat.
Sumber: TribunKaltim.co
Ikuti infopertama.com di Google Berita dan WhatsApp Chanel




